Langkau ke kandungan utama

CODE NAME'/JOKOPITONO


Kredit by Susiyanto;

###
[Sebuah dongeng biasanya selalu dimulai dengan ungkapan: “Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adala kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan”. Demikian juga cerita ini tidak berbeda, hanya saja cukup disengaja]
*****

"Swuh Rep Data Pitana. Anenggih pundi ta negari ingkang kaeka adi dasa purwa. Eka marang sawiji adi linuwih dasa sepuluh purwa wiwitan. Sanajan kathah titahing Pangeran kang kasangga ing angkasa kaapit ing samudra laya nanging taksih kathah ingkang samya anggana raras. Nanging boten kadi pundi negari Hastinapura. Ya negari Gajah Oya, Liman Benawi."

Akhir dari sebuah pertaruhan dadu telah menimpakan nasib buruk bagi rakyat Hastinapura. Hari-hari akan terasa panjang, seolah neraka telah hadir di Janaloka. Derita dan sengsara silih berganti hanya terselingi oleh duka.

Rezim telah berganti dan keadaan justru semakin memburuk. Destarastra, raja buta yang sebelumnya berkuasa, tak kurang membawa nestapa. Cacat fisik yang dimiliki, tak urung menyebabkan kebijakannya kurang jernih akibat disetir oleh berbagai pihak yang berkepentingan. Pejabat negara semakin banyak yang terlena dan mabuk kuasa. Sementara rakyat semakin rusak mentalitas dan moralnya dalam kemiskinan yang terus mendera.

Angin yang membawa harapan sebenarnya telah tiba. Ketika para putra Pandu, mengalami pendadaran ulah keprajuritan di alun-alun Istana, rakyat seperti merasakan semilir hawa surga. Para satria tama berlaga memperlihatkan kemampuan olah senjata. Tak hanya itu gebyar keperwiraan dan budi luhur juga memancar dari kelima pemuda itu. Namun asa itu tidak bertahan cukup lama. Konspirasi jahat menjegalnya menuju kuasa. Harapan rakyat sirna oleh kecurangan Arya Sangkuni di medan judi.

Pandawa kalah dalam permainan dadu dan terbuang untuk masa yang lama dengan membawa penghinaan menyakitkan. Mereka terpaksa menelan ludah, tahta milik ayahnya tak bisa digenggam dan janji bakti bagi negeri terbengkelai. Rakyat dibuat gundah, anak-anak Destarastra terlalu condong kepada nafsu dunia dan tamak terhadap harta benda. Tak ada harapan bisa digantungkan kepada mereka.

Jangankan berpikir tentang rakyat jelata, berbuat untuk kemuliaan dirinya saja tidak kuasa. Mereka yang hanya terdidik untuk memandang dunia, maka akan sempit pemikiran dan tindakannya. Ia terpenjara dan diperbudak dalam dan oleh dirinya sendiri. Mereka yang terus menerus menggapai cahaya langit, maka akan melintas batas dunia dan terbang leluasa mengangkasa. Mereka inilah orang bebas yang sebenarnya.

Mereka tumbuh dalam asuhan sang ibu, Gandari, yang meski sehat Panca inderanya, namun memilih tutup mata terhadap semua persoalan. Dengan sukarela memilih dendam kesumat terhadap para Pandu Hawa sebagai panggilan hidupnya. Tak pelak, buta jua mata hati dan tumpul rasa jiwanya. Belum lagi harus berkembang dalam asuhan raja yang plin-plan dan terdidik dalam kelicikan watak Sangkuni. Apalagi kebaikan yang tersisa..?
Tidak banyak,
jika tidak boleh disebut tak ada.

Kini Hastinapura berganti takdir. Raja muda telah dinobatkan. Dialah Prabu Jokopitono, sebuah julukan khas karena telah bertahta ketika masih terlalu muda.

Nama “Jokopitono” telah lama dihasung. Disokong oleh para durjana dan pemangku kepentingan yang menaburkan bisa. Sebuah konspirasi gelap dengan permainan tingkat tinggi sejak awal berupaya mendudukkan dirinya di singgasana.

Para penjilat saling berlomba merebut simpati. Para kroni sibuk berbagi upeti dan menghitung emas kencana yang hendak dikangkangi. Tak heran Pandawa dengan watak polosnya, harus tersingkir dari percaturan dan memilih terasing dari peradaban.

Usia sang raja boleh jadi semakin tua, namun karakternya tak pernah dewasa, apalagi bijak bestari. Ia tumbuh karena dimanja. Ia punya nama besar karena di sanjung media massa, mbok bakul sinambi wara. Terombang-ambing dalam kemelut dunia tanpa tahu harus berbuat apa. Kata-katanya bercabang dua, pemikirannya merusak keseimbangan, dan tindakannya menjatuhkan malapetaka. Ia mewujud ada sebagai ujian bagi umat manusia.

Memisahkan yang baik diantara yang durhaka. Peran tambahannya adalah sebagai bala’.
"Sak beja-bejane wong kang lali isih beja wong kang eling lan waspada."

Eling marang Pangeran lan waspada marang liyep layaping kahanan jagad gumelar.

Hastinapura, terimalah nasibmu. Kepalkan tangan ke atas dan berteriaklah:

“Sambutlah.!
Inilah Prabu Jokopitono.!
Hidup Destarastraputra.!
Hidup Gandarisuta.!
Hidup Prabu Kurupati.!
Hidup Prabu Kurawaendra.!
Hidup Prabu Jokopitono!
Hidup Prabu Suyudana.!
Hidup Prabu Duryudana..!”

"Rep sidhem premanem datan ana sabawane walang salisik. Samirana datan lumampah. Ron-ronan datan obah. Kang kapireng amung swaraning pradangga anganyut-anyut binareng ocehing kukila miwah gemblak kemasan anambut kardi .
Cunthel

Ulasan

Catatan popular daripada blog ini

##DALANG 1998 ADA DIBALIK REZIM JOKOWI##

******* Date: Juni 10, 2018Author: Merdeka Utara Sejak Jokowi menjabat Gubernur DKI Jakarta Oktober 2012 atmosfir politik bangsa Indonesia mendadak berubah menyesakkan dada. Walau bukan Gubernur Jokowi yang selalu melontarkan pernyatan provokatif dan insuinatif menyerang umat Islam, namun posisi Ahok selaku wakil Jokowi, menyebabkan pandangan mata umat Islam juga terarah kepada Jokowi. Hingga tiga bulan pertama, Jokowi belum menunjukkan gelagat kehadiraannya di panggung politik nasional tidak semata menjadi pemimpin rakyat melainkan juga mengemban misi kelompok tertentu yang menginginkan politik dan moral umat Islam Indonesia dilemahkan sedemikian rupa sehingga mudah dikuasai, dikendalikan dan dimarginalkan. Sikap Anti Islam dan Korupsi Yang Dilindungi Rakyat mulai tersadarkan siapa Jokowi sebenarnya. Pengakuannya sebagai muslim bertolak belakang dengan fakta yang mudah dilihat publik dengan mata telanjang. Misalnya, Jokowi tidak mampu menjawab pertanyaan dasar mengenai makna berp...

JANGKA SABDA PALON; "RAMALAN KEHANCURAN ISLAM DI JAWA.. "

## PENDAHULUAN Salah satu buku berbahasa Jawa yang sering dengan tujuan memunculkan ruang berjarak antara Islam dan Jawa adalah kitab “Jangka Sabda Palon”. Umumnya, upaya-upaya yang mengarahkan untuk memicu gap ini lebih banyak disebabkan penafsiran yang kurang memperhatikan pemahaman komprehensif terhadap keseluruhan teks. Kitab jangka tersusun dari rangkaian tembang macapat ini sering disebut secara lengkap sebagai Serat Jangka Jayabaya Sabdo Palon , selanjutnya diingkat sebagai Jangka Sabda Palon. Penamaan ini mungkin disebabkan konten buku ini selain memuat kisah tentang tokoh Sabda Palon, juga berisi tentang mitologi “Prabu Jayabaya”. Serat Jangka Sabdo Palon diyakini merupakan karya R. Ng. Ranggawarsita. Moh. Hari Soewarno, seorang wartawan dan budayawan Jawa, dalam bukunya “Ramalan Jayabaya Versi Sabda Palon”, menjelaskan bahwa dalam jangka tersebut terdapat sandi asma yang menunjukkan bahwa Jangka Sabda Palon merupakan karya R. Ng. Rangga...